Terhina karena hutang

Hutang adalah suatu perkara yang Rasulullah perintahkan umatnya tuk menghindari. Ketahuilah bahwa hutang dapat menjadi penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Bahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya.

 

 

Sampai-sampai Rasulullah berdoa agar dijauhkan dari perkara hutang. Karena perkara ini sangatlah besar dalam Islam.
yanne

Saudaraku seiman…
Dibawah ini disebutkan beberapa hal yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. tidak menganggap remeh dan mudah perkara hutang:

1. Nabi Muhammad saw. awalnya tidak menyolati jenazah yang mempunyai hutang ketika ia meninggal

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ – رضى الله عنه – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أُتِىَ بِجَنَازَةٍ ، لِيُصَلِّىَ عَلَيْهَا ، فَقَالَ « هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ » . قَالُوا لاَ . فَصَلَّى عَلَيْهِ ، ثُمَّ أُتِىَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى ، فَقَالَ « هَلْ عَلَيْهِ مَنْ دَيْنٍ » . قَالُوا نَعَمْ . قَالَ « صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ » . قَالَ أَبُو قَتَادَةَ عَلَىَّ دَيْنُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . فَصَلَّى عَلَيْهِ .

“Salamah bin Al Akwa’ ra. meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. didatangkan seorang jenazah, agar beliau menyalatinya, maka beliau bertanya: “Apakah ia memiliki tanggungan hutang?”, mereka menjawab: “Tidak”, maka beliau menyalati jenazah itu, kemudian didatangkan seorang jenazah lain, maka beliau bertanya: “Apakah ia mempunyai tanggungan hutang?”, mereka menjawab: “Iya”, beliau bersabda: “Shalatkanlah jenazah kalian”, Abu Qatadah ra. berkata: “Hutangnya saya yang menanggungnya, wahai Rasulullah”, maka akhirnya beliau menyalati jenazah tersebut.” HR. Bukhari

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ الْمُتَوَفَّى عَلَيْهِ الدَّيْنُ فَيَسْأَلُ « هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِهِ فَضْلاً » . فَإِنْ حُدِّثَ أَنَّهُ تَرَكَ لِدَيْنِهِ وَفَاءً صَلَّى ، وَإِلاَّ قَالَ لِلْمُسْلِمِينَ « صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ » . فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْفُتُوحَ قَالَ « أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ، فَمَنْ تُوُفِّىَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَتَرَكَ دَيْنًا فَعَلَىَّ قَضَاؤُهُ ، وَمَنْ تَرَكَ مَالاً فَلِوَرَثَتِهِ » .
“Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. sering didatangkan jenazah yang mempunyai tanggungan hutang, maka beliau bertanya: “Apakah ia meninggalkan pelunasan untuk hutang?”, maka jika diberitahukan bahwa ia telah melaksanakan pelunasan, beliau akan menyalatinya, dan kalau tidak (meninggalkan pelunasan), beliau bersabda untuk kaum muslim: “Salatilah jenazah kalian”. Ketika Allah memberikan kemenangan dengan penaklukan kota Mekkah, beliau bersabda: “Aku orang yang paling berhak untuk menolong kaum beriman dibandingkan diri mereka sendiri, maka barangsiapa yang meninggal dari kaum beriman, dan ia meninggalkan hutang, maka akulah yang melunasinya, dan barangsiapa yang meninggalkan harta maka ia tinggalkan untuk ahli warisnya.” HR. Bukhari.

2. Nabi Muhammad saw. berdoa meminta perlindungan kepada Allah agar tidak terlilit hutang

عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ » .
“’Urwah meriwayatkan bahwa Aisyah ra. memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah saw. sering berdoa di dalam shalat, beliau mengucapkan: “Wahai Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan banyaknya hutang”, lalu ada yang bertanya kepada beliau: “Alangkah seringnya engkau meminta perlindungan dari banyak hutang, wahai Rasulullah?!”, beliau menjawab: “Sesungguhnya seseorang jika ia banyak hutang niscaya ia berdusta dan jika berjanji, niscaya ia ingkar.” HR. Bukhari.

Ancaman keras di akhirat bagi yang berhutang:
1. Ditahan masuk surga
2. Ruhnya tertahan; dari mendapatkan tempat yang mulia
3. Tidak diampuni dosanya
4. Yang punya hutang di akhirat, membayarnya dengan pahala kepada orang yang menghutangi.

Ok, saudaraku seiman…Pernah berhutang? Semoga dimudahkan Allah swt. untuk melunasinya. Aamiin. Jangan ditunda-tunda untuk melunasinya, karena sangat berbahaya dan beresiko bagimu baik di dunia maupun di akhirat. Baca lebih lanjut

4 Cara Berjilbab Yang Malah Bikin Dosa, hati hati ya Kaum Hawa ….

Baru-baru ini jilbab telah menjadi trend masyarakat indonesia khususnya kaum hawa.

Dari mereka ada yang rela mengeluarkan isi dompet untuk memperdalam ilmu mempercantik diri dengan jilbab. Namun, apakah mereka tahu aturan-aturan berjilbab yang sesungguhnya? Karena, tidak semua pemakai jilbab telah benar-benar menutup aurot sehingga terhindar dari dosa.
Baca lebih lanjut

jilbab

APA JILBAB ITU?Jilbab atau hijab secara syari’at merupakan bagian pakaian yang wajib digunakan untuk menutupi kepala wanita hingga ke dadanya.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْلأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْجَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا

يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُغَفُورًا رَحِيمًا (٥٩)

“Hai Nabi, Katakanlah kepadaisteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[**] ke seluruh tubuh mereka”.yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu merekatidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

download

 

 

QS. Al-A’raf: 26, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

QS. An-Nuur: 31, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

“Hai anak cucu Adam! Jangan sampai kamu dapat diperdayakan oleh syaitan, sebagaimana mereka telah dapat mengeluarkan kedua orang tuamu (Adam dan Hawa) dari syorga, mereka dapat menanggalkan pakaian kedua orang tuamu itu supaya kelihatan kedua auratnya.” (Q. S. Al-A’raf: 27)

  Baca lebih lanjut

Batu Cincin Nabi Muhammad

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata :

اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَجَعَلَ فُصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ فَاتَّخَذَهُ النَّاسُ فَرَمَى بِهِ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ أَوْ فِضَّةٍ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin dari emas, beliau menjadikan mata cincinnya bagian dalam ke arah telapak tangan, maka orang-orangpun memakai cincin. Lalu Nabi membuang cincin tersebut dan memakai cincin dari perak” (HR Al-Bukhari no 5865)
Baca lebih lanjut

Pendidikan Agama Sejak Dini

Pendidikan agama sejak dini hendaklah sudah ada di rumah keluarga muslim. Didikan tersebut bukan menunggu dari pengajaran di sekolah atau di taman pembelajaran Al Qur’an (TPA). Namun sejak di rumah, orang tua sepatutnya sudah mendidik anak tentang akidah dan cara beribadah yang benar. Kalau memang orang tua tidak bisa mendidik demikian, hendaklah anak diarahkan ke pre-school atau sekolah yang Islami sehingga ia sudah punya bekal agama sejak kecil. Setiap orang tua tentu sangat menginginkan sekali anak penyejuk mata.
Baca lebih lanjut